Senin, 20 Agustus 2012

" Wawan mau beli cepeda walna meyah..." :) [ Sebuah Kisah Indah Idul Fitri Bersama ADS Wawan ]

Halo semua. :)

Sebelumnya izinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin kepada segenap keluarga ADS (anak Down's Syndrome) yang merayakan, juga bagi saudara-saudara sekalian yang merayakannya. Semoga kasih semesta selalu menjadi hikmah kebersamaan bagi kita untuk selalu tak lelah saling berbagi. Amin. :)

Sebenarnya ingin sekali saya benar-benar menyuguhkan teh hangat dan kue-kue kecil untuk kita nikmati bersama, tapi barangkali jarak memang belum memungkinkan kita untuk benar-benar duduk bersama dalam lingkaran dan saling bertukar cerita. Jadi kali ini saya akan membawakan sebuah oleh-oleh cerita tentang Wawan, seorang ADS berusia 30 tahun yang berdomisili di Malang, Jawa Timur.

Kemarin, 19 Agustus 2012, tepatnya di hari pertama Idul Fitri, seperti biasa kami sekeluarga melaksanakan ritual-ritual seperti ibadah sholat Ied, sungkeman, silaturahmi dengan sanak saudara dan tetangga, dan sebagainya. Setelah semua selesai, saya dan keluarga kemudian melaksanakan satu ritual lagi yang tak boleh ketinggalan, yakni nyekar almarhum adik saya tercinta yang adalah ADS semasa hidupnya. Suasana begitu haru sebab ini adalah lebaran pertama bagi kami sekeluarga tanpa Yudha. Airmata tertumpah, sudah jelas. Namun yang lebih penting adalah doa agar almarhum Yudha diberikan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan YME. Amin. :)

Setelah nyekar, Ibu saya yang masih saja menangis sepanjang perjalanan dari makam, tiba-tiba meminta Ayah untuk mencari sosok "Wawan" yang awalnya saya tidak tau siapa. Ternyata Wawan adalah seorang ADS yang beberapa kali sempat ditemui oleh Ibu saya secara tidak sengaja di kawasan Mitra 2 Malang ( sekarang akan jadi Hotel kalau tidak salah ) juga sering terlihat di sekitar jalan Kaliurang, di parkiran sebuah minimarket waralaba. Sesampainya di parkiran minimarket tersebut, kami tidak melihat sosok Wawan yang dirindukan Ibu saya. Wajah Ibu saya nampak kecewa. Barangkali Ia begitu ingin melihat sosok Wawan sebagai obat kerinduannya pada almarhum adik saya. Akhirnya Ayah saya turun dan bertanya pada seorang bapak yang sepertinya juga sering berada di parkiran minimarket tersebut. Saya mengamati dari dalam mobil, sepertinya kabar baik. Dari ekspresi wajahnya, Bapak-Bapak berusia 60 tahunan tersebut sepertinya mengenal sosok Wawan yang dicari-cari Ibu saya ini. Kemudian Ia memberikan 'ancer-ancer' kepada Ayah saya perihal tempat tinggal Wawan.

Setelah berterimakasih kepada si Bapak, kami sekeluarga langsung menuju rumah Wawan yang ternyata tak jauh dari kawasan 'tempat mangkal' favoritnya itu. Syukurlah tempat tinggal wawan ini tidak susah dicari, sebab ternyata Si Bapak tadi memberikan informasi letak persisnya dengan jelas. Usut punya usut, ternyata beliau pernah mengantarkan Wawan pulang ketika Wawan menangis karena diganggu oleh anak-anak muda di kampung tempat minimarket itu berada. :(

Ayah saya tiba-tiba memelankan laju kendaraan, seraya berkata dengan sangat gembira, "Nah itu orangnya, Ning!" (Ning adalah panggilan sayang Ayah kepada Ibu). Ibu saya tak kalah gembira. Wajahnya begitu berseri hingga membuat mata saya berkaca-kaca dalam sekejap.
Sayapun ikutan melongok melihat sosok Wawan yang dimaksud Ibu saya ini.

Kemudian seorang ADS yang awalnya sedang 'thenguk-thenguk' (bahasa Jawa Timuran dari duduk-duduk santai) di halaman rumahnya balas memandang ke arah kami. Awalnya ia mengernyitkan dahi melihat kami sekeluarga yang melambaikan tangan dengan hebohnya ke arahnya. Namun tak lama kemudian ia lantas terlihat tersenyum riang dan balas melambaikan tangan kepada kami. Ia lalu berteriak ke dalam, memanggil Ibundanya rupanya. Kemudian Wawan yang membuat jantung saya berdebar sebab sosoknya sangat mengingatkan saya pada almarhum adik saya inipun berlari ke arah kami sekeluarga. Ia mencium tangan Ibu saya dengan riang. Ibu saya menangis (lagi). Namun kali ini menangis bahagia karena kerinduannya melihat, menyentuh, dan berinteraksi dengan ADS terobati sudah. :') Setelah bercakap dengan Ibu saya, Wawan kemudian menyapa saya. Ia tersenyum lebar sambil menggamit lengan saya, menyuruh saya masuk ke dalam rumahnya. Saya hampir-hampir tidak bisa mengendalikan diri saya. Airmata saya tertumpah hampir tak terkendali. Kalau tidak ingat kata sungkan kepada Ibunda dari Wawan, barangkali bisa-bisa saya sudah sesenggukan di tempat. :) hehehe...

Ibunda Wawan kemudian berpelukan dengan Ibu saya. Luar biasa memang rasa persaudaraan yang tumbuh dari rasa senasib. Ibunda Wawan ini padahal belum pernah bertemu dengan Ibu saya, namun ketika mereka bertemu, sepertinya dua perempuan hebat ini seakan sudah saling klik tentang keadaan mereka yang memiliki persamaan, yakni; mendapatkan amanah seorang "fallen angel" dalam keluarga. :) Ya. benar-benar sebuah pertemuan Idul Fitri yang luar biasa.

Rumah Wawan tergolong kecil dan sederhana. Namun kehangatan kasih yang kuat sangat saya rasakan di dalamnya, dan di beberapa rumah keluarga dengan ADS yang pernah saya singgahi. Entah mengapa pada setiap rumah yang di dalamnya tumbuh seorang ADS atau anak berkebutuhan khusus lainnya, bagi saya auranya selalu lain. Sangat damai dan penuh cinta. Mungkin suasana yang terbentuk sebab tindak-tanduk anak-anak istimewa itulah yang membuatnya menjadi berbeda. Kepolosan dan ketulusan mereka sungguh membuat suasana sebuah rumah menjadi istimewa.

Selama hampir satu jam kami bersilaturahmi ke rumah Wawan. Ibunda Wawan adalah seorang single parent. Ayah Wawan sudah lama tiada. Almarhum mengalami kecelakaan ketika bertugas sebagai pembawa kemudi truk jalur pantai utara Jawa di tahun 90-an. Ibunda Wawan adalah seorang perempuan dengan 5 anak yang sosoknya begitu tangguh, cantik, dan baik hati. Semuanya terpancar jelas ketika kami bercakap-cakap. Ya, beliau adalah perempuan yang teruji dan terberkati.

Ibunda Wawan dan Ibu saya asyik berbincang berdua. Agaknya Ibu saya curhat tentang kerinduannya kepada adik, juga berbagi pengalaman tentang mengasuh dan membesarkan ADS. Sementara saya dan adik saya yang bungsu banyak bercengkrama dengan Wawan yang sungguh sangat berkepribadian menyenangkan. :)
Wawan mengeluarkan semua mainan yang ia miliki. Mulai dari robot-robotan yang sudah tidak lengkap komponennya, mobil-mobilan, yoyo, dvd musik-musik favoritnya, dan sebagainya. Ia nampak begitu senang ada yang mengunjunginya dan tidak menganggapnya berbeda. Ya, setiap anak berkebutuhan khusus akan sangat senang ketika lingkungan di sekitarnya bersikap terbuka pada mereka. Jadi, jangan pernah mencemooh dan mendiskriminasi anak-anak tersebut, kawan. Sebab mereka sangatlah lembut dan perasa, serta tidak sedikitpun memiliki niat buruk kepada lingkungannya. Maka, bersikaplah dan perlakukan mereka dengan baik seperti mereka yang saya yakin selalu berniat baik dan tulus kepada kita. :) :)

Setelah banyak saling bercerita dengan Ibunda Wawan, Ibu saya mengajak kami sekeluarga untuk berpamitan sebab masih banyak sanak famili yang mesti dikunjungi di hari lebaran ini. Sebelum meminta diri, Ibu saya menyempatkan memberikan 'galak gampil' ( tradisi memberikan uang jajan dari orangtua kepada sanak saudara yang lebih muda ) untuk Wawan. Wawan yang tidak mengerti akan nominal menerima dengan senang hati galak gampil dari Ibu saya. Satu hal yang menyentuh, setelah menerima galak gampil tersebut, Wawan langsung berjalan ke halaman memanggil adik laki-lakinya yang kira-kira berusia 17 tahun. Ia kemudian memberikan selembar dari galak gampil yang diberikan Ibu saya kepadanya. Manis sekali, dalam kondisinya ia bahkan tak lupa berbagi. :)

Sembari berjalan menuju mobil ditemani Wawan dan Ibundanya yang baik hati, saya kemudian iseng bertanya kepada Wawan; "Nanti uangnya mau dipakai beli apa Mas Wawan?", tanya saya.
Wawan menjawab sambil mengeluarkan dari saku celananya beberapa hasil galak gampilnya yang lain dari tetangga dan sanak saudara yang seharian bersilaturahmi ke rumahnya. Ia tertawa riang memamerkan lipatan-lipatan ribuan yang ia punya di hari raya ini. Kemudian Wawan-pun menjawab dengan bahasanya yang agak cadel: "Wawan mau beli cepeda walna meyah...antel adik...hehehe..." (Wawan mau beli sepeda warna merah (buat) antar adik (kalau pergi-pergi) )

Saya tertawa, haru, dan tak bisa menimpali. Semuanya begitu mempesona dan mengejutkan tentang diri Wawan dan keluarganya ini. Keterbatasan dan kondisinya samasekali tidak membuat Wawan lupa untuk berbagi dengan sekitarnya. Seperti sepeda warna merah yang ia cita-citakan agar bisa membonceng adik laki-laki tersayangnya jika hendak pergi kemana-mana.

Terimakasih Wawan, terimakasih Ibu Atik (Ibunda Wawan)... Kalian luar biasa.
Dan sehatlah selalu brother, agar kelak kau dan adik laki-lakimu bisa berboncengan di pagi atau senja hari mengendarai sepeda warna merah yang kau cita-citakan...

Selamat Idul Fitri semuanya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar