Senin, 20 Agustus 2012

"Malaikat Itu Adalah Dirimu, Anakku." ( Tribute Untuk Para Ibu Dari Anak-Anak Berkebutuhan Khusus )

Malam sudah larut, nak. Segera rapikan mainanmu ke tempatnya.
Ayo lekas cuci kaki, gosok gigi, dan belajar pipis sendiri.
Ibu tunggu di depan pintu kamar mandi.
Nah, begitu. pintarnya anak Ibu.

Kemari, anakku. Mendekatlah pada Ibu.
Sebelum kau lelap, biar Ibu ceritakan untukmu sebuah kisah tentang malaikat yang jatuh ke bumi.
Malaikat itu ditugaskan Tuhan untuk memberi berkat bagi perempuan-perempuan yang sedang dalam rencana Tuhan; entah untuk apa. Yang jelas, pastilah rencana-rencana yang indah.

Malaikat itu diturunkan ke bumi dalam berbagai macam perwujudannya.
Salah satunya sepertimu, anakku.
Hadiah dari surga yang tentu saja istimewa.

Biar saja mereka yang belum menyadari kuasa-Nya.
Mereka yang mencemoohmu, menepikanmu pada geliatnya dunia yang sementara.
Biar saja anakku.
Tak perlu kau balas semuanya dengan amarah atau tangis.
Tetap tersenyumlah dari hatimu yang lugu dan lakumu yang jauh dari segala rupa kebencian.
Tak perlu pula engkau mendendam pada mereka yang menyalahkan kita berdua;
Menyalahkan Ibu yang mengandung berkatNya dalam wujud dirimu.
Yang mereka bilang sebagai sebuah aib, kegagalan, penyakit, dan sebagainya.

Biar saja anakku.
Ikhlaskan saja segala siapa dan apa yang meninggalkan kita sejak kehadiranmu ke dunia.
Doakan saja mereka agar tidak semakin jauh dari cinta Tuhan yang bentuknya kadang-kadang abstrak dan susah dipahami.
Doakan saja mereka, anakku. Tak harus dengan tengadahkan tangan mungilmu; sebab Ibu tau bahwa dalam setiap nafas, kerjap-takjub, tawa, tangis, dan kepolosanmu dalam hidup...engkau selalu berdoa.

Nak, jangan pernah takut.
Tetaplah menari dan bersenandung, berceloteh riang dengan bahasamu yang jujur; bahasa yang indah laksana ayat-ayat suci yang tak pernah tertulis.
Jangan pernah takut, anakku.
Ada Ibu yang selalu bersamamu sampai kapanpun.
Menemanimu pada ruang-ruang imajimu yang warna-warni.
Memelukmu ketika dunia mendadak dingin dan tak ramah.
Ada Ibu yang untuk itu semua tak butuh penerjemah, sebab bahasamu adalah bahasa cinta.
Bahasa yang dilahirkan dari rahim seorang Ibu.

Bahasa yang biar kita berdua yang tau.

Kau sudah mengantuk rupanya, anakku.
Lelaplah....
Lelaplah dalam pelukan Ibu seperti ketika kau berada di dalam rahim Ibu.
Hangat itu tak akan berubah, Nak. Kapanpun kau pulang setelah lelah bermain dan tertawa, di hari hujan atau terik, hangat itu akan selalu sama.

Selamat tidur malaikat kecilku...
Jika nanti kau bermimpi bertemu Tuhan, sampaikan terimakasih Ibu padaNya...
...atas berkatNya yang diwujudkan dalam bentuk malaikat kecil yang pernah tinggal dalam rahim Ibu dan selalu membuat Ibu bangga;

...yang adalah dirimu, anakku.

Selamat tidur, anakku.
Cinta Ibu selalu menjagamu.






[ 20. 08. 2012 ]

*tribut untuk seluruh Ibu dengan anak berkebutuhan khusus yang pernah dipersalahkan. yang pernah mengalami diskriminasi oleh lingkungan, keluarga, atau bahkan pasangan; "cercaan dan diskriminasi itu tak akan pernah bisa melumpuhkan cinta dan semangat kita". mari tetap menjadi kuat! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar